Handphone saat ini sudah menjadi sebuah kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat, tak terkecuali usia tua maupun muda dan mulai ditinggalkannya telepon rumah sebagai sarana komunikasi. Perkembangan telekomunikasi sangatlah pesat terutama yang berhubungan dengan telepon genggam atau handphone. Pasca reformasi di Indonesia komunikasi menggunakan handphone sudah mulai menggeliat meskipun pada awalnya memiliki harga yang mahal untuk sebuah handset, seperti Nokia dan Erricson yang menguasai pasar pada saat itu.
Pada tahun 2000an, perkembangan handphone tidaklah sepesat sekarang ini, hanya orang-orang tertentu saja yang membeli handphone mengingat komunikasi saat itu tidaklah semurah sekarang. Selain itu pada awal 2000an telekomunikasi tidaklah semudah sekarang yang serba berbasis internet namun masih menggunakan pulsa yang jika keluar dari zona yang ditentukan maka akan di kenakan tarif lebih mahal alias roaming. Misalnya ketika kita menggunakan nomor handphone Jakarta maka ketika kita mudik sebutlah ke Banyumas maka dikenakan tarif roaming, meskipun itu hanya terima telepon. atau Ketika kita menelpon keluar disaat sedang berada diluar jangkauan zona nomor telepon maka akan di kenakan roaming.
Handphone masih merupakan barang mewah yang tidaklah dapat dengan mudah orang miliki, dan tingkat jangkauan sinyal pun masih sangat terbatas sehingga terdapat banyak blank spot.
Berbicara tentang Handphone maka tidak bisa di lepaskan dengan yang namanya kartu perdana handphone. Berbicara kartu perdana handphone maka kita akan berbicara tentang produk pra bayar yaitu kartu perdana nomor handphone. Berbicara tentang kartu perdana prabayar tahun 2000an masih di dominasi oleh 3 provider yaitu Telkomsel, Indosat dan XL.
Dan pilihan saya jatuh pada Telkomsel. Sebenarnya ini adalah nomor kedua saya karena pernah memiliki handphone namun di begal ketika naik Kopaja di daerah Volvo Pasarminggu. Sebuah pengalaman yang sangat pahit karena tidak ada yang nolongin. Setelah kejadian tersebut, saya di pinjamin handphone Nokia oleh seorang teman kuliah dan akhirnya saya kembali membeli kartu perdana. Simpati Nusantara.
Simpati Nusantara merupkan salah satu kartu perdana prabayar yang pada saat itu memiliki harga yang cukup tinggi. Kartu perdana Simpati Nusantara dengan isi pulsa 100 ribu rupiah, saya beli di counter hp di daerah Pengadegan sebesar Rp 350.000, meskipun di kemasannya bandrolnya Rp. 250.000, sebuah harga yang mahal namun saat itu memang harga perdana tergolong mahal. Bahkan untuk sebuah nomor handphone tanpa pulsa yang bekas pun memiliki harga dengan kisaran 50 sd 100 ribu rupiah. Jauh sekali bedanya dengan sekarang yang memiliki harga sangat murah.
Simpati Nusantara nomor Jakarta, pada saat itu belum bebas roaming nasional sehingga ketika kita akan keluar daerah Jakarta, akan terkena biaya roaming. Komunikasi yang sangat mahal tentu saja. Hal ini tentu saja membuat boros dalam pemakaian pulsa kalau sering-sering keluar kota Jakarta.
Kartu Perdana Simpati Nusantara memiliki kemasan yang bagus dan ekslusive atau mewah dengan selongsong terbuat dari aluminium dan beberapa petunjuk yang ada di dalam kartu yagn dapat di baca-baca sebagai panduan pengguna nomor telepon tentu saja sangat menarik. Kenapa terdapat manual booknya? karena pengguna kartu GSM saat itu tidaklah sebanyak sekarang sehingga bagi pengguna baru maka harus membaca manual book yang telah disediakan.
Namun demikian seiring berjalannnya waktu, roaming nasional pun di hapuskan untuk emua operator kartu GSM sehingga komunikasi lebih murah dan semakin kesini juga semakin maju teknologi. Pengguna handphone semakin banyak dengan pilihan provider yang juga semakin banyak sehingga memudahkan pengguna untuk berkomunikasi.
Ada yang punya simpati nusantara jadul juga?




Tidak ada komentar:
Posting Komentar