
Perangko seri pahlawan revolusi
Pernah Berkirim surat melalui kantor Pos? Pernah pengalaman menempelkan perangko sebagai biaya pengiriman surat melalui pos? Bagi generasi lama kantor pos menjadi salah satu pilihan untuk mengirimkan surat. Namun seiring berkembangnya waktu, pengiriman surat melalui kantor pos pun tidak lagi menggunakan perangko seperti dahulu, tarif pengiriman disesuaikan dengan jauh dekatnya jarak yang ditempuh tanpa harus membubuhkan perangko yang sudah memiliki nominal tertentu.

Perangko Ibu Tien Suharto dan Gusdur
Apa Itu Perangko? Bagi generasi Milenial mungkin ada yang tidak tahu yang namanya perangko apalagi belum pernah berkirim surat melalui kantor pos. Prangko adalah secarik kertas berperekat sebagai bukti telah melakukan pembayaran untuk jasa layanan pos, bisanya bentuknya kecil persegi empat yang di gunakan sebagai biaya untuk mengirim surat melalui kantor Pos. Penggunaannya adalah dengan menempelkan pada sampul sebuah Surat atau Kartu Pos yang akan di kirimkan melalui Pos.
Kantor Pos di Indonesia menjadi satu-satunya sarana pengiriman yang menggunakan perangko. Perangko sendiri dapat di kategorikan sebagai perangko biasa (tarifnya lebih murah) dan perangko kilat. Setiap orang yang akan mengirmkan Surat harus membeli perangko terlebih dahulu untuk ditempelkan di sampul Surat dan siap di kirimkan baik dititipkan langsung ke Kantor Pos maupun di masukkan kedalam Bis Surat yang berwarna oranye dalam bentuk rumah kecil yang biasanya berada di jalan tertentu sehingga memudahkan pengirim Surat untuk memasukkannya tanpa harus ke kantor Pos yang biasanya berkilo kilo meter dari rumah. Selain di kantor Pos, di warung-warung terentu biasanya juga menyediakan perangko yang di jual ke konsumen.
![]() |
| Perangko Peserta Pemilu 1987 |
berbicara masalah perangko kita akan berbicara mengenai keindahan maupun tokoh yang ada di gambar perangko. Bagi saya perangko memiliki kendahan tersendiri dan karena tidak mampu membelinya maka al hasil perangko bekaspun jadi untuk di koleksi. Kalau di kalangan filatelis biasanya ada istilah sampul hari pertama di mana mereka akan berburu perangko yang dirilis di kantor pos tertentu, namun tak sedikit masyarakat yang mengkoleksi perangko bekas. Untuk mengkoleksi perangko bekas, ada proses yang harus di lalui yaitu menyobeknya dari amplop dengan hati-hati. Biasanya akan menyisakan sobekan kertas di perangko. Kemudian kumpulkan dulu jika sudah agak banyak maka untuk membuang kertas yang menempel di perangko adalah dengan merendam perangko dalam air panas. Setelah terkelupas lemnya maka menyisakan perangko yang rapi dan di angin-anginkan biar kering. Setelah selesai maka siap untuk dimasukkan kedalam album perangko yang kala itu masih di jual namun saat ini sih sudah sulit sekali di cari ya karena memang perangko sudah terlindas jaman digantikan teknologi lain seperti kilat khusus yang hanya mendapatkan resi tanpa menempel perangko lagi, atau semakin kesini main banyak jasa pengiriman diluar kantor pos maka orang akan memilih kemana akan mengirimkan suratnya.
![]() |
| Perangko Presiden Soeharto |
Perangko sebagai bea atas pengiriman melalui pos sudah berlaku sejak jaman dulu, era Sukarno pernah memilikinya juga kemudian Era Pak Harto jadi presiden maka foto Suharto di perangko menjadi foto terbanyak yang saya miliki. Dari nominal Rp. 25, Rp. 55, Rp. 100, Rp. 350, juga Rp. 700, selain bergambar presiden, perangko juga di cetak berdasar tema seperti Tema Pon, Tema Haji, Tema Wajib Belajar, Tema Cerita Rakyat dan lain-lain. Pokoknya kalau kita mau mencermati maka terdapat keindahan disana. Tema Pelita (Pembangunan Lima Tahun) yang merupakan salah satu program Presiden Suharto, juga Tema Swasembada Pangan juga menarik untuk di koleksi. Tema Tarian Daerah, Thomas dan Uber Cup, Flora, Fauna, Olahraga dan banyak sekali tema-tema yang di cetak sebagai perangko.
Nominal menunjukkan nilai rupiah yang dapat di pakai untuk mengirim surat, banyaknya perangko dengan nominal tertentu itu pula yang akan di tempel.
![]() |
| Perangko Gerakan Nasional Orang Tua Asuh |
Dari sekian Perangko Bekas yang saya punya paling suka edisi Ibu Tien Suharto, Perangko Ibu Tien termasuk perangko yang unik dan Gus Dur, kemudian Pemilu 1984, GN OTA, Casa Nurtanio CN-235 sebuah pesawat buatan anak bangsa, peluncuran satelit palapa yang kalau di perhatikan memiliki nilai sejarah yang dapat menggali dari gambar perangko tersebut. Atau seri perangko Soekarno, seri pahlawan revolusi dan juga seri-seri lainnya yang menarik.
Bagaimana dengan Perangko Luar Negeri? Perangko Luar Negeri menjadi bagian menarik dari apa yang saya kumpulkan namun tetap tidak dapat mengalahkan perangko perangko dalam negeri yang tentu saja lebih unik.
![]() |
| Seri Cerita Rakyat |
Perkembangan Perangko saat ini sudah menjadi sesuatu yang sudah di tinggalkan seiring dengan teknologi komunikasi dan perkembangan internet yang sangat pesat sehingga Surat menyurat menjadi hal yang sudah jarang di lakukan terutama untuk mengabarkan sebuah kabar berita pada sanak saudara, kemudahan teknologi sudah menggunakan HP tinggal SMS atau nelpon lebih cepat dibanding dengan harus menunggu sepucuk surat yang datang. Memang Surat menyurat masih saja ada tapi lebih ke arah surat menyurat dalam bentuk dokumen dan mungkin kalaupun ada surat menyurat dalam bentuk kabar berita itu sudah langka sekali. Ditambah dengan munculnya agen-agen pengiriman lain selain pos yang menjadi pilihan masyarakat sehingga kebutuhan akan surat menyurat melalui pos pun kian ditinggalkan.
Bagaimana dengan pos sendiri apakah masih menggunakan perangko? Akhir akhir ini kalau kekantor pos setiap pengirim barang atau surat biasanya mengantri hanya untuk menunggu giliran untuk membayar dan menerima resi surat yang dikirim, so pasti tidak ada perangko bukan?
Namun bagi kalangan filatelis tentu masih bisa membeli perangko sampul hari pertama di kantor Pos Pasar Baru Jakarta atau jaringan kantor pos lainnya.
Perangko sudah menjadi barang langka dan kian punah. Anda punya perangko bekas? yuk kita sharing










Tidak ada komentar:
Posting Komentar